Surat Pernyataan (Pidana atau Perdata?)

by Estomihi F.P Simatupang, SH.,MH

Posted on May 22, 2020 09:12

Oleh : Estomihi F.P Simatupang, SH.,MH
 
Latar Belakang
Orang yang mengingkari atau tidak melakukan apa yang sudah dinyatakan dalam surat pernyataan seringkali disebut wansprestasi karena surat pernyataan dikategorikan sebagai perjanjian atau juga dianggap sebagai suatu tindak pidana karena adanya ancaman hukuman dalam surat pernyataan tersebut.
 
Jadi, surat pernyataan termasuk ranah hukum perdata atau hukum pidana ?
Untuk melihat secara jelas apakah surat pernyataan masuk ranah pidana atau perdata, maka akan dijelaskan sebagai berikut :
 
Pengertian
Surat Pernyataan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata Surat adalah kertas dan sebagainya yang bertulis (berbagai-bagai isi, maksudnya) sedangkan arti kata Pernyataan adalah : hal menyatakan; tindakan menyatakan: permakluman; pemberitahuan dan . Jika digabungkan maka pengertian surat pernyataan adalah kertas dan sebagainya yang bertulis hal menyatakan/tindakan menyatakan/ permakluman/ pemberitahuan.
 
Masih menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata menyatakan adalah menerangkan; menjadikan nyata; menjelaskan menunjukkan; memperlihatkan; menandakan: mengatakan; mengemukakan (pikiran, isi hati); melahirkan (isi hati, perasaan, dan sebagainya); mempermaklumkan (perang)
 
Kaidah Hukum
1. Perjanjian
Perjanjian adalah hubungan hukum yang menimbulkan hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak.
Unsur-unsur Perjanjian :
Menurut Pasal 1320 KUHPerdata :
  • Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya
  • Kecakapan untuk membuat suatu perikatan
  • Suatu hal tertentu
  • Suatu sebab yang halal
Secara umum unsur-unsur perjanjian :
  • Ada pihak-pihak yaitu dilakukan oleh setidak-tidaknya oleh dua pihak
  • Ada kata sepakat/persetujuan yaitu pernyataan kehendak yang saling mengisi
  • Ada suatu hal tertentu yaitu objek perjanjian berupa benda atau perbuatan untuk berbuat atau tidak berbuat
  • Ada tujuannya yaitu mengatur hak dan kewajiban para pihak
  • Bentuk tertentu yaitu dalam bentuk lisan atau tulisan.
2. Hukum Pidana
Hukum Pidana adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang menentukan perbuatan apa yang dilarang dan termasuk ke dalam tindak pidana, serta menentukan hukuman apa yang dapat dijatuhkan terhadap yang melakukannya.
Unsur-unsur tindak pidana
 a. Unsur subjektif :
  • Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa);
  • Maksud atau Voornemen pada suatu percobaan atau pogging seperti yang dimaksud dalam Pasal 53 ayat 1 KUHP;
  • Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat misalnya di dalam kejahatan-kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan dan lain-lain;
  • Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachte raad seperti yang terdapat di dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP;
  • Perasaan takut yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana menurut Pasal 308 KUHP.
 b. Unsur objektif : 
  • Sifat melanggar hukum atau wederrechtelicjkheid;
  • Kwalitas dari si pelaku, misalnya kedaan sebagai seorang pegawai negeri di dalam kejahatan jabatan menurut pasal 415 KUHP atau keadaan sebagai pengurus atau komisaris dari suatu Perseroan Terbatas di dalam kejahatan menurut Pasal 398 KUHP.
  • Kausalitas yakni hubungan antara suatu tindak pidana sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.
Seseorang yang membuat surat pernyataan lalu mengingkari atau tidak melakukan apa yang telah dinyatakannya itu tidak serta merta telah melakukan suatu tindak pidana. Untuk dapat dikatakan seseorang itu melakukan suatu tindak pidana atau bukan, perlu melihat pernyataan yang dilanggarnya itu apakah bersifat melawan hukum (wederrechtelicjkheid) atau bukan. Sifat melawan hukum ini harus sesuai dengan asas legalitas dalam hukum pidana. Asas legalitas mengatakan bahwa tidak seorangpun dapat dipidana selain berdasarkan ketentuan perundang-undangan pidana yang ada sebelumnya. Asas legalitas artinya: 
  1. Undang-undang peraturan itu harus tertulis, sudah disebutkan tadi lex scripta;
  2. Undang-undang tidak boleh berlaku surut;
  3. Dilarang analogi, baik analogi undang-undang maupun analogi hukum.
3. Hukum Perdata
Hukum Perdata adalah aturan-aturan hukum yang mengatur tingkah laku setiap orang terhadap orang lain yang berkaitan dengan hak dan kewajiban yang timbul dalam pergaulan masyarakat maupun pergaulan keluarga.
Hukum Perdata dibagi menjadi dua, yaitu :
  • Hukum Perdata Materiil, yaitu mengatur kepentingan-kepentingan perdata setiap subjek hukum  
  • Hukum Perdata Formil, yaitu mengatur bagaimana cara seorang mempertahankan haknya apabila dilanggar oleh orang lain. 
Dalam hukum perdata seseorang dapat menuntut suatu tanggung jawab kepada orang lain jika orang tersebut melakukan perbuatan wansprestasi atau melakukan perbuatan melawan hukum.
 a. Wansprestasi
  • Seseorang dikatakan melakukan wansprestasi jika orang tersebut tidak melakukan prestasinya. Prestasi menurut pasal 1234 KUHperdata adalah (a) memberikan sesuatu, (b) berbuat sesuatu, (c) tidak berbuat sesuatu. Jika berdasarkan pasal 1234 KUHperdata apakah surat pernyataan dapat dikategorikan sebagai suatu perjanjian ? Surat pernyataan dapat dikategorikan sebagai perjanjian jika memenuhi unsur-unsur sahnya suatu perjanjian (Pasal 1320 KUHPerdata), Namun jika Surat pernyataan tersebut tidak memenuhi unsur-unsur sahnya suatu perjanjian (Pasal 1320 KUHPerdata), menurut penulis maka surat pernyataan tidak dapat dikategorikan sebagai suatu perjanjian.
 b. Perbuatan Melawan Hukum
  • Konsep perbuatan melawan hukum dalam hukum perdata adalah perbuatan melawan hukum (undang-undang) dan/atau perbuatan melawan hukum (hak orang lain) yang membawa kerugian kepada orang lain.
  • Menurut Pasal 1365 KUHPerdata disebutkan bahwa Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut. Menurut penulis, jika berdasarkan pasal 1365 KUHPerdata, maka konsep perbuatan melawan hukum harus memenuhi unsur formil (perbuatan melanggar hukum) dan unsur meteril (merugikan orang lain). Seseorang yang membuat pernyataan dapat dituntut melakukan perbuatan melawan hukum berdasarkan pasal 1365 KUHPerdata jika orang tersebut mengingkari dan/atau melanggar pernyataan yang dibuatnya itu merupakan perbuatan yang sifatnya melanggar hukum (undang-undang/hak orang lain) dan mengakibatkan kerugian. Melanggar hukum dalam pasal ini selain hukum yang diatur oleh undang-undang juga norma-norma lain yang hidup dalam masyarakat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang.
Kesimpulan
  1. Terhadap Surat Pernyataan yang telah memenuhi unsur-unsur sahnya suatu perjanjian (pasal 1320 KUHPerdata), maka pihak yang dirugikan dapat melakukan gugatan wansprestasi (tuntutan ganti rugi) melalui pengadilan kepada pihak yang membuat pernyataan.
  2. Terhadap Surat Pernyataan yang tidak memenuhi unsur-unsur sahnya suatu perjanjian (pasal 1320 KUHPerdata),  maka pihak yang dirugikan akibat pernyataan tersebut dapat melakukan gugatan Perbuatan Melawan Hukum  (tuntutan ganti rugi) melalui pengadilan kepada pihak yang membuat pernyataan.
  3. Terhadap Surat Perjanjian yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana , maka pihak yang dirugikan dapat menuntut-nya secara pidana yaitu dengan melaporkannya kepada aparat penegak hukum. 

Referensi :
  • KUHPerdata
  • KUHP
  • Yurisprudensi Mahkamah Agung No. 1601.K/Pid/1990 tanggal 26 Juli 1990.
  • UU No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai
  • Mariam Darus 2001, Kompilasi Hukum Perdata
  • Subketi 2014, Aneka Perjanjian
  • Mariam Darus 2015, Hukum Perikatan dalam KUH Perdata
  • Hans Kelsen 2006, Teori Umum tentang Hukum dan Negara
  • Putusan MK Nomor003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006
diperbaharui tanggal 29 Oktober 2021

 

Daftar Referensi Bacaan

Total Views : 594

Responsive image
Related Post

× Harap isi Nama dan Komentar anda!
berandahukum.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Komentar pada artikel ini
Pengantar Ilmu Hukum
Pengantar Hukum Indonesia
Peraturan PerUndang-Undangan
Yurisprudensi
Contoh Surat-Surat
Lingkup Praktek
Essay